SALAM

Bismillah yeah heii selamat datang di blog saya 07sectionofthesky.blogspot di sini saya akan berbicara bebas berdasarkan apa yang saya lihat dan rasakan kemudian saya ingin ungkapkan dengan kata-kata yang berantakan maklumlah anak baru di dunia papan teknologi walaupun kuliah jurusan ilmu komunikasi di salah satu universitas swasta di jakarta tapi bahasa saya di sini belum tentu selayaknya standar komunikasi pada umumnya dan bukan pula bahasa ilmiah yang saya gunakan berdasarkan teori-teori yang ada. disini kita bebas membahas ilmu apa pun dari mana pun dan untuk apa pun itu yang diharapkan mampu melahirkan solusi dari sebuah permasalahan maka kerja sama saudara-saudara semua sangat di butuhkan disini guna untuk manatap dunia yang lebih baik.

Minggu, 26 Juni 2011

ADA APA DENGAN DIRIKU?


ADA APA DENGAN DIRIKU?




“Dan barangsiapa yang buta (mata qolbunya) di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. 17 : 72)

Ada apa dengan diriku?
Ketika aku dalam kesendirianku, dan aku berlaku jujur pada sendiri, aku sering bertanya hal-hal sebagai berikut :
v  Dari sejak kecil aku sering mendengar bahwa shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab (diperiksa) oleh Allah di akhirat nanti. Jika shalat itu baik, maka amalanh yang lain tak perlu lagi periksa, tetapi jika shalat itu buruk, maka amalan yang lain, pasti buruk. Lalu aku bertanya, bagaimana dengan shalatku? Shalat yang itu yang seperti apa? Aku pun sering mendengar bahwa nereka wail itu diperuntukkan Allah buat orang-orang yang shalatnya tidak khusyu’. Lalu aku bertanya, apa sesungguhnya shalat khusyu’ itu? Siapa yang dapat mengajarkan kepadaku shalat khusyu’ itu?

Ada apa dengan diriku?
v  Aku sering mendengar bahwa intisari shalat itu adalah ingat kepada Allah. Sejujurnya aku mengakui, bahwa ketika aku shalat, aku lebih banyak ingat kepada selainnya Allah. Aku ingat permasalahan hidupku, aku ingat anak istriku, aku ingat keluargaku, aku ingat rumahku, aku ingat mobilku, aku ingat pacarku, aku ingat kebutuhan-kebutuhanku, aku ingat segala rencana-rencanaku, ..…., aku ingat semuanya, bahkan yang tidak aku ingat ketika aku tidak sedang shalat, semuanya menjadi aku ingat ketika shalat. Aku pun kadang-kadang tidak ingat terhadap bacaan shalat yang aku baca. Aku tidak sadar terhadap apa yang aku baca dalam shalat. Aku tidak mengerti, dengan siapa aku berdialog dalam shalat. Jadi, kalau begitu aku telah kehilangan intisarinya shalat, yaitu ingat kepada Allah. Mengapa hal ini terjadi pada diriku?

Ada apa dengan diriku?
v  Aku sering mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW, mengatakan bahwa hiburannya Beliau itu ada di dalam shalat. Berarti, Beliau itu merasakan nikmatnya shalat ketika sedang shalat. Aku mengalami hal berbeda. Aku merasakan nikmatnya shalat, justru ketika aku sudah selesai shalat. Bukan ketika aku sedang shalat. Aku bertanya, apa sesungguhnya nikmat yang aku rasakan itu? Jangan-jangan kenikmatan yang aku rasakan itu adalah karena aku baru gugur dari kewajiban shalat. Kadang shalatku begitu tergesa-gesa aku lakukan, mungkin hal ini dikarenakan aku tidak merasakan kenikmatan apa yang Nabi Muhammad SAW rasakan ketika Beliau sedang shalat. Sejujurnya bahkan aku tak merasakan apa-apa dalam shalatku. Mengapa hal ini terjadi pada diriku?

Ada apa dengan diriku?
v  Aku merasakan tidak enak ketika aku tidak shalat. Atau ketika aku meninggalkan shalat. Lalu aku bertanya pada diriku. Rasa tidak enak yang terjadi pada diriku itu sebenarnya apa? Apakah karena aku biasa shalat, lantas ketika tidak shalat aku merasa tidak enak? Sejujurnya aku mengakui jangan-jangan perasaan tidak enak yang aku rasakan ketika aku meninggalkan shalat itu, semata-mata karena aku kehilangan kebiasaanku, bukan karena aku telah merasakan rasanya nikmat shalat. Kadang aku menyadari bahwa aku melakukan shalat, karena orang-orang di sekitarku shalat. Aku belum merasakan bahwa shalat adalah aktivitas yang aku rindukan kehadirannya, karena aku belum merasakan rasanya nikmat shalat 0sesungguhnya. Aku ingin membebaskan diriku dari shalat yang hanya terjebak oleh kebiasaan. Aku ingin agar shalat adalah kebutuhan utamaku. Aku ingin merasakan rasanya shalat.

Ada apa dengan diriku?
v  Aku menyaksikan banyak orang shalat, tapi shalatnya itu tak mampu mengubah perilakunya. Padahal aku sering mendengar bahwa shalat itu seharusnya dapat mencegah seseorang dari perilaku keji dan mungkar. Aku mengamati sejujurnya lingkungan sekelilingku, aku terkejut ketika aku mendapati kesimpulan bahwa perilaku orang yang shalat dengan tidak shalat ada bedanya. Mengapa hal ini terjadi? Aku yakin, Nabi Muhammad SAW telah mewariskan tata cara shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam Al Qur’an. Kepada siapa aku harus belajar shalat sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW? Masih adakah para pewaris ilmu sejatinya Nabi Muhammad SAW? Hal yang sama terjadi juga pada diriku. Aku tak merasakan perbedaan antara aku shalat dengan aku tak shalat, dengan ilmu tentang shalat yang aku miliki saat ini.

Ada apa dengan diriku?
v  Aku tahu dari sejarah Islam, bahwa Nabi Muhammad SAW itu mendapatkan perintah shalat setelah Beliau bertemu dengan Allah, melalui suatu peristiwa yang kenal dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Lantas aku merenung, kalau begitu Nabi Muhammad SAW bisa ingat kepada Allah, karena Beliau telah bertemu dengan Allah. Aku menyadari bahwa tidaklah mungkin aku dapat mengingat sesuatu yang belum aku tahu. Nabi Muhammad SAW sudah tahu Tuhan, sehingga beliau dapat mengingat-Nya. Oleh karena itu pantas kalau Beliau itu shalatnya selalu khusyu’, karena Beliau menyembah yang Beliau tahu. Aku menyadari bahwa selama ini berarti diriku menyembah Tuhan yang aku tidak tahu. Berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW yang tercinta (Ya Allah, sampaikan salamku pada Nabi Muhammad SAW yang aku cintai). Pantas sekali kalau aku selama ini tak dapat mengingat Tuhanku selama aku shalat. Dalam shalatku, aku selalu mengingat segala sesuatu selain Tuhan, karena aku belum tahu Tuhan.

Ada apa dengan diriku?
v  Pantaskah kalau diriku mengaku sebagai ummatnya Nabi Muhammad SAW? Padahal aku belum bisa mencontohnya? Nabi Muhammad SAW ketika shalat menyembah atau mengingat yang Beliau tahu, sedangkan diriku selama shalat menyembah atau mengingat yang aku tak tahu. Nabi Muhammad SAW shalatnya khusyu’, sedangkan aku selalu lalai dan lupa pada yang aku sembah (Astagfirullahal ‘adziim; Tuhan, ampunilah kelalaianku ini, jangan Kau biarkan diriku berada dalam kegelapan. Aku telah Kau anugerahi nikmat-nikmat yang tiada terhingga, sementara aku menyembah tidak lurus pada-Mu). Nabi Muhammad ketemu dulu dengan Tuhan, lantas Beliau menyembah-Nya, sedangkan aku tidak demikian. Lalu aku menyadari bahwa shalatku baru meniru Nabi Muhammad, bukan meneladaninya. Berarti setiap meniru, hasil tiruan adalah barang palsu. Jangan-jangan shalatku baru sebatas meniru.

Ada apa dengan diriku?
v  Ya Allah ampunilah kelalaianku ini! Ya Allah ampunilah ketidaktahuanku dan kebodohanku ini! Tunjukkanlah aku kepada seseorang yang dapat mengajarkan shalat, sebagaimana Nabi Muhammad shalat! Pertemukanlah aku dengan para pewaris ilmu sejatinya Nabi Muhammad yang aku cintai! Tuhan, jangan kau biarkan diriku dalam kegelapan dalam menyembah-Mu! Jangan Kau biarkan bathinku menghadap kepada wajah selain-Mu dalam shalatku! Tuhan, karuniakanlah kenikmatan shalat, sebagaimana telah Engkau karuniakan nikmat tersebut kepada Para Nabi, Para Shiddiqiin, Para Syuhada, dan Para Sholihin! Maafkanlah ketidaktahuanku! Janganlah Kau hukum aku!

Ada apa dengan diriku?
v  Aku bertanya pada diriku sendiri sejak lama, sebenarnya aku ini siapa? Darimana aku berasal? Menagapa aku berada di dunia ini ? Mau kemana aku setalah kehidupan dunia ini ? Untuk apa aku hidup? Mengapa aku dilahirkan sebagai manusia? Siapa sebenarnya yang mengatur kehidupan ini ? Mengapa ada orang terlahir sebagai orang miskin? Mengapa ada orang terlahir sebagai orang kaya? Dimana letak keadilan Tuhan? Aku pelajari dari berbagai buku, aku belajar filsafat, aku belajar berbagai aliran tasawuf, namun aku belum menemukan jawaban yang memuaskan diriku. Apa sebenarnya  tujuan dari  kehidupan ini.

Ada apa dengan diriku?
v  Aku ingin menikmati hidup ini ditengah tengah kondisi masyarakat yang rentan dengan kritis, aku ingin bisa bahagia dalam kondisi apapun. Untuk memenuhi harapan itu, aku pergi kesana kemari mencari ketentraman, namun semuanya tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Bagaimana aku dapat mengatasi permasalahanku ini? Apa sebenarnya masalahku ini? Aku bingung sendiri. Padahal kebutuhan sehari hariku sudah terpenuhi.Aku berpendidikan tinggi bila dibandingkan di masyarakat umum, aku juga terpandang di masyarakat. Apa sebenarnya masalahku ? Mengapa aku merasakan kehampaan dalam kehidupanku ini ?
Ada apa dengan diriku?
v  Siapa yang dapat membantuku untuk membebaskan diriku dari belenggu kehampaan ini? Terkadang begitu mudah aku berputus asa dalam menghadapi segala permasalahan dalam kehidupanku. Aku sudah melaksanakan permasalahan dalam kehidupanku. Aku sudah melaksanakan semua ritual agama sebagaimana yang dilakukan banyak orang. Tetapi aku merasakan betapa rapuhnya keteguhan imanku. Terkadang begitu mudah menyerahkan bathinku. Aku sering begitu mudah menyerahkan syaitan yang mencelakakan dan menjatuhkan martabatku, Mengapa aku begitu mudah rapuh? Siapakah yang dapat membantuku melebur kerapuhan bathinku ini ?
Ada apa dengan diriku?
v  Setiap hari aku sibuk dengan apa yang aku cari. Setiap saat aku sibuk mengumpulkan sesuatu yang akan aku tinggalkan. Aku menyadari hal ini, tetapi aku selalu terjebak dalam keadaan ini. Akupun menyadari bahwa jatah usiaku semakin berkurang, dan akhirnya aku akan meninggalkan dunia yang fana ini, entah kapan. Kematian itu pasti akan datang menjengukku. Malah aku takut menghadapi saat yang pasti akan datang itu. Aku pun tidak tahu, mengapa aku harus takut menghadapi kematianku ? Mungkin karena aku tidak tahu ilmunya?
Ada apa dengan diriku?
v   Yang lebih mengherankan diriku, sesungguhnya yang membuat aku takut bukan hanya kematian, tetapi kehidupan itu sendiri. Sering aku merasakan ketakutan menghadapi kehidupan ini. Apalagi jika kehidupan yang seperti diajarkan oleh Para Nabi dan orang orang suci. Aku sering membaca kisah kehidupan orang orang mulia disisi Allah, betapa berat ujian yang telah mereka hadapi. Sedangkan aku, terkadang selalu menghindar dari ujian itu. Pantas kalau aku tidak naik kelas melulu.
Ada apa dengan diriku?
v  Kedewasaanku dalam menyikapi hidup tidak pernah meningkat. Kesabaranku, kecerdasan intelektualku, kecerdasan emosionalku, kecerdasan spiritualku tetap disitu situ aja. Bahkan sering aku merasakan bahwa kualitas kehidupanku hari ini lebih buruk dari kemarin. Akupun menyadari bahwa apa yang aku cari itu, akhirnya tak kunjung ketemu. Aku ingin mencari kehidupan yang abadi, aku ingin mencari jati diriku, yang kau cari adalah makna hidup. Yang aku cari adalah ketenangan. Selama ini aku mencari semua itu keluar dari badanku sendiri, aku mencarinya jauh jauh.
Ada apa dengan diriku?
v  .Setelah aku banyak membaca banyak literatur peninggalan para suci, aku baru menyadarinya bahwa sesungguhnya semua yang aku cari itu ada bersama diriku. Mereka semua menyatakan bahwa, diriku ini adalah tempatnya harta karun yang terpendam. Allah sebagai sumber Kehidupan Yang Abadi, Allah adalah Sumber Ketenangan, tidak jauh bersamaku, Dia ada bersama diriku, berarti aku tinggal menemukan cara mengenaliNya, Aku tinggal menemukan orang yang dapat mengajarkan kepadaku tentang cara menemuinya. Aku tinggal mencari orang yang dapat mengajarkan kepadaku bagaimana aku dapat menggunakan kunci yang telah diberikan Tuhan pada diriku untuk membuka harta karun yang terpendam dalam diriku.
v  Semua agama diatas dunia ini sangat menekankan pentingnya mengenal Sang Maha Pencipta dalam arti yang sebenar-benarnya. Begitu pula Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, juga menekankan bahkan mewajibkan setiap pengikutnya agar mengenal Allah SWT dalam arti yang sebenar benarnya. Hal ini tercermin dalam Sabda Beliau : “Awwaluddiini makrifatullahita’ala warasuulihi” (Awal beragama adalah mengenal Allah dan rasulnya).
Dalam hadist lain,Nabi Muhammad mengatakan :
Ø  Makrifat adalah modalku
Ø  Akal fikiran adalah sumber agamaku,
Ø  Cinta dasar hidupku, rindu adalah kendaraanku,
Ø  Berdzikir kawan dekatku,
Ø  Ketaatan ukuranku,
Ø  Duka kawanku,
Ø  Ilmu senjataku,
Ø  Ketabahan pakaianku,
Ø  Kerelaan sasaranku,
Ø  Fakir kebanggaanku,
Ø  Menahan diri pekerjaanku,
Ø  Keyakinan makananku,
Ø  Kejujuran perantaraku,
Ø  Keteguhan perbendaharaanku,
Ø  Berjihad perangaiku,dan
Ø  Hiburanku ada di dalam shalat
v  Berdasarkan kedua hadist tersebut, jelas bahwa Nabi Muhammad sangat menekankan pentingnya umat Islam mengenal Allah SWT, untuk membimbing kesempurnaan umat Islam dalam menjalankan aktivitas keagamaannya.

Pengenalan Kepada Allah
v  Pengenalan kepada Allah, akan dapat menghindarkan diri dari dosa tersebar yang tiada ampunannya, yaitu dosa syirik. Perbuatan syirik adalah menyekutukan Tuhan. Artinya menduakan Tuhan atau mencari-cari tuhan-tuhan lain selain Allah. Hal ini terjadi sebagai akibat dari tidak tahu Allah. Sebagai contoh, kita lihat firman Allah sebagai berikut :
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. 20 : 14)

Pengenalan Kepada Allah
v  Berdasarkan ayat tersebut diatas, bahwa salah satu intisari persembahan kepada Allah adalah shalat. Sedangkan intisarinya shalat adalah mengingat Allah. Jika kita selama shalat malah ingat pada rencana-rencana kerja, permasalahan-permasalahan hidup, ingat pada keluarga, ingat pada harta benda, ingat pada barang yang hilang, dan lain-lain, berarti kita tidak ingat kepada Allah, maka kita telah kehilangan intisarinya shalat. Jika intisarinya shalat telah hilang, berarti kita telah kehilangan intisarinya ibadah. Berdasarkan ayat ini, ibadah itu adalah shalat, sedangkan shalat itu adalah ingat kepada Allah. Jika kita shalat ingat kepada selainnya Allah, berarti saat itu kita sedang menduakan Allah. Perbuatan seperti ini adalah syirik kepada Allah. Jika dalam shalat saja kita syirik kepada Allah, bagaimana perbuatan kita di luar waktu sholat?
v  Agar kita mengenal Allah SWT dalam arti sebenar-benarnya, kita wajib berusaha mempelajari, memahami dan mengamalkan ilmu ma’rifatullah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Agar dapat mengenal Allah, setiap umat islam dituntut agar berusaha menemui Allah (liqaa Allah).
v  Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata : “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang pertemuan Allah itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa diatas punggungnya. (QS. Al An’am : 31)

Langkah Untuk Menemui Allah
v  Setiap orang yang mencari kebenaran sejati, harus mau mendengarkan perkataan manapun datangnya dengan menggunakan akal dan kehendak yang merdeka (huriyatul fikri wa huriyyatul iradah), apabila ingin mencapai Kebenaran Sejati.
“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hambaKu”. (QS. 39 : 17)
“Yaitu, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (QS. 39 : 18)
“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah akan menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. 10 : 100)
v  Rasullulah SAW bersabda : “Belum tegak agamanya bagi seseorang sebelum ia memerdekakan aqalnya secara sempurna”.
v  Saayidina Ali bin Abi Thalib menasihatkan : “Janganlah engkau melihat siapa orang yang berkata, tetapi lihat dan dengarkan apa yang dikatakan dan ikuti yang paling baik bagi dirimu.”
v  Menyadari bahwa secara hakekat perwujudan dari Kebenaran Absolut adalah Allah SWT. Kebenaran selain daripada Allah SWT. Kebenaran selain daripada Allah SWT pada hakekatnya adalah kebenaran relatif. Hal ini dapat dilihat pada firman Allah berikut ini :
“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah Kebenaran dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain daripada Allah itulah yang bathil; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. 31 : 30)

v  Langkah berikutnya adalah langkah pengecekan kebenaran pengetahuan yang diperoleh. Suatu pengetahuan dapat dikatakan benar, apabila pengetahuan itu memenuhi 3 azas, yaitu :
o   Azas Koherensi, yaitu pengetahuan tersebut tidak bertentangan dengan pengetahuan lainnya.
o   Azas Korenpondensi, yaitu pengetahuan tersebut sesuai dengan faktanya dan dapat dibuktikan.
o   Azas Pragmatis, yaitu pengetahuan tesebut bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (QS. 2 : 147)
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS. 29 : 64)
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu bermnain dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu” (QS. 47 : 36)

v  Diwajibkan memahami Kitab-kitab suci yang merupakan petunjuk bagi umat manusia. Bagi yang beragama Islam adalah Al-Qur’an . Yang dimaksud disini adalah pemahaman pada tingkat permulaan. Pemahaman sejati Al-Qur’an pada tingkat lanjut, memerlukan pengalaman spritual yang sesungguhnya. Sebagaimana yang Nabi Muhammad samaikan: ”Ma Lam yadzuq lam ya’rif (Yang tidak mengalami tak akan memahami)”. Sebagaimana yang Allah firmankan :


“Kitab ini tidak ada keraguan  padanya :petunjuk bagi mereka yang bertakwa”(QS. 2 : 2)
Ketika manusia berusaha untuk mempergunakan aqalnya dalam rangka mencari kebenaran Absolut maupun kebenaran relatif, maka ia akan cenderung untuk berbeda beda pendapat antara umat yang satu dengan manusia yang lainnya.Hali ini disebabkan karena ayat ayat Al Qur’an itu ada yang bersifat muhkammat dan ada yang bersifat mutasyaabihaat.Oleh karena itu,seorang pencari kebenaran harus mampu menghindarkan diri dari perdebatan–perdebatan (saling berbantah-bantahan) yang diakibatkan oleh perbedaan pendapat tersebut. Agar terhindar dari perbedaan pendapat ,maka tafsir dan takwil dari Ayat Ayat Al Qur’an itu harus didasari oleh pengalaman spriritual.Untuk itu kita harus memperhatikan firman – firman Tuhan sebagai berikut :


“ Dialah yang menurunkan Al Kitab kepadamu. Diantara (isi) nya ada ayat ayat yang mukammat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan ayat lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang rang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan , maka mereka mengikutai sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah utnuk mencari-cari ta’wilnya,padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.Dan orand-orang yang mendalam ilmunya berkata : ”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan ulul albab.”(QS. 3 : 7)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulul albab” (QS. 3 : 190)

“Yaitu orang orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “ Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan isi dengan sia-sia , Maha Suci Engkau,maka peliharalah kami dari siksa neraka.”(QS. 3 : 191)

“ Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) berbantah bantahan tentang hal yang kamu ketahui, maka mengapa kamu berbantah bantahan tentang hal yang tidak kamu ketahui / Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui  (QS. 3 : 66)

“Dia menjawab : Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama aku” (QS. 18 : 66)

“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. 18 : 68)

Musa berkata : “ Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang sabar, dan aku tidak akn menentang dalam sesuatu urusanpun” QS. 18 : 69)

Dia berkata : “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun smpai aku sendiri menerangkan kepadamu” (QS. 18 : 70)

Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya Musa berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk meneggelamkan penumpangnya? Sungguh engkau telah berbuat susuatu kesalahan besar” (QS. 18 : 71)

Dia (Khidhr) berkata : “Bukankah aku telah berkata, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan bersabar bersama dengan aku” (QS. 18 : 72)

Musa berkata : “Janganlah kamu menghukum aku kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku” (QS. 18 : 73)

Maka berjalanlah keduanya hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr mebunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar” (QS. 18 : 74)

Khidhr berkata : “Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akn dapat sabar bersamaku” (QS. 18 : 75)

Musa berkata : “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku” (QS. 18 : 76)

Maka keduanya berjalan hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepadapensusuk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu didning rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata : “Jikalau kamu niscaya kamu mengambil upah untuk itu” (QS. 18 : 77)

Khidhr berkata : “Inilah perpisahan aku dengan kamu, kelak akan kuberitahu kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS. 18 : 78)